Mahasiswa Muhammadiyah Kenalkan Literasi Emosi kepada Siswa SD di Kampung Tualang

Pengenalan literasi emosi sejak dini kembali menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah kegiatan psikoedukasi emosi oleh mahasiswa Kelompok 82 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAs) di SDN 02 Tualang. Program ini diselenggarakan pada Rabu, 13 Agustus 2025, namun pesan dan manfaatnya tetap relevan dengan kebutuhan pendidikan anak-anak saat ini.


Mengapa Literasi Emosi Penting?

Selama ini, emosi kerap disalahpahami sebagai perasaan negatif seperti marah, kecewa, atau kesal. Padahal, emosi mencakup seluruh perasaan yang dialami manusia—baik positif maupun negatif. Di tengah fokus pendidikan yang lebih banyak menonjolkan aspek intelektual, kecerdasan emosional sering kali terpinggirkan.

Melihat realitas tersebut, mahasiswa Muhammadiyah berinisiatif memberikan psikoedukasi tentang pengenalan emosi kepada siswa sekolah dasar sebagai langkah awal pembentukan kesehatan mental yang baik.


Kegiatan Psikoedukasi oleh Mahasiswa KKN MAs

Kelompok 82 KKN MAs—yang beranggotakan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Riau, Malang, Purwokerto, dan Makassar—menghadirkan kegiatan interaktif yang dirancang khusus agar mudah dipahami anak-anak.

1. Ice Breaking: Membangun Suasana Nyaman

Kegiatan dimulai dengan ice breaking yang membuat siswa lebih rileks dan siap menerima materi. Suasana kelas menjadi penuh tawa dan antusiasme, menciptakan ruang belajar yang menyenangkan.

2. Pengenalan Emosi Dasar dan Cara Mengelolanya

Pada sesi inti, Widya Anggraini dan Azka Azkia, mahasiswa psikologi, menyampaikan materi mengenai jenis-jenis emosi dasar seperti senang, sedih, marah, dan takut. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana serta contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Pelaksanaan ini juga memperkenalkan journaling sebagai salah satu cara mengungkapkan emosi. Siswa diminta menuliskan perasaan mereka saat itu beserta alasannya. Hasilnya, hari itu hampir seluruh siswa berada dalam kondisi emosi positif dan penuh kegembiraan.

3. Tanya Jawab Interaktif dan Penguatan Pemahaman

Sesi diskusi berlangsung hidup. Siswa antusias bertanya dan berbagi pengalaman emosional mereka. Mahasiswa memberikan penjelasan dengan sabar dan ramah, memperkuat pemahaman siswa tentang cara menghadapi situasi emosional tertentu.

Pemateri kemudian memberikan pertanyaan berhadiah untuk menguji pemahaman siswa. Hampir semua siswa dapat menjawab cepat dan tepat, menunjukkan bahwa materi tersampaikan dengan baik.


Dampak Positif yang Masih Relevan Hingga Kini

Salah satu momen menyentuh terjadi ketika siswa secara sukarela menuliskan surat ucapan terima kasih kepada seluruh anggota Kelompok 82. Tindakan ini menunjukkan bahwa mereka memahami cara mengungkapkan emosi positif secara sehat—salah satu tujuan utama kegiatan tersebut.

Meski kegiatan ini berlangsung pada 2025, pesan pentingnya tetap aktual. Literasi emosi menjadi kebutuhan mendesak bagi anak-anak saat ini, terutama di era serba cepat dan penuh tekanan. Program seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah dan komunitas untuk terus mengembangkan edukasi emosional bagi siswa.


📌 Kelompok 82 KKN MAs 2025


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Explore More

Apa Perbedaan Psikolog dan Psikiater?

Perbedaan Psikolog dan Psikiater terletak pada latar belakang pendidikan, metode penanganan, dan fokus terapi. Berikut perbedaannya:

Transformasi Budaya Visual: Analisis Profunditas dalam International Visiting Lecture Fikomm UMBY

International Visiting Lecture ini dihadiri oleh Prof. Madya Dr Nor Shahizan Ali dari Universiti Kebangsaan Malaysia-Bersama Dekan FIKOM-UMBY Dr Didik Haryadi Santoso, MA

Foto : FIKOM UMBY mengadakan International Visiting Lecture Sumber IG fikomm.umby Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Universitas Mercu Buana Yogyakarta, atau Fikomm UMBY, mengadakan International Visiting Lecture pada Kamis (7/12/2023)

Pemecatan Mengejutkan: Sam Altman dan Greg Brockman Keluar dari Pusat Kepemimpinan OpenAI

openAI Chat GPT Pergantian Sam Altman terkait dengan proses peninjauan yang sengaja dilakukan oleh dewan

Siapa yang tidak kenal dengan ChatGPT aatu chat OpenAI, banyak mahasiswa dan juga dosen menggunakan ChatGPT ini. Terkait OpenAI ini dengan tiba-tiba, dewan direksi OpenAI, pembuat chatbot ChatGPT, memutuskan untuk