
Ruangan mendadak riuh ketika Kelompok 18 Magister Manajemen Pendidikan UNPAM membuka sesi PKM bertema “Cerdas Digital, Hemat Financial, Menuju Masyarakat Bijak di Era Gaya Hidup Instan.” Bukan acara formal yang kaku—kegiatan ini benar-benar dirancang sebagai ruang belajar bareng, tempat masyarakat bisa memahami tantangan digital dan finansial dengan cara yang santai dan mudah dicerna.
Dipimpin oleh Yolanda Putri, Kelompok 18 hadir bersama anggota Yanuar Arif Ramadhan, M. Faqih Adzkia, Euis Nurlaela, dan M. Arief Wicaksono. Mereka juga mendapat arahan dari para dosen pendamping: Dr. Lili Nurlaili, M.Ed., Dr. Imas Masria, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Akhirudin, M.Pd.
Belanja Rp10.000 & Fenomena Hidup Instan
Suasana langsung pecah dengan tawa saat video “Belanja Apa dengan Rp10.000?” diputar. Tapi gelak itu berubah jadi pemikiran serius ketika peserta menyadari bahwa bahkan uang kecil bisa menunjukkan gaya hidup seseorang.
Promo digital, tren instan, dan konten media sosial sering membuat seseorang belanja tanpa sadar. Dari situlah diskusi berkembang: ternyata literasi finansial nggak bisa dipisahkan dari cara kita berinteraksi di dunia digital.
Menyelami Dunia Digital: Antara Manfaat, Manipulasi, dan “Clickbait”
Antusiasme semakin naik ketika sesi literasi digital dimulai. Peserta diajak memahami bagaimana tautan, iklan, dan unggahan bisa mempengaruhi cara berpikir dan gaya konsumsi.
Bukan hanya soal cara memakai gadget, tetapi lebih dalam lagi:
- mengenali konten provokatif,
- membaca pola promosi yang memicu pembelian impulsif,
- memahami jebakan “kebutuhan semu”,
- hingga menjaga keamanan data di dunia digital yang makin rumit.
Uang Bocor Tanpa Disadari? Semua Dibahas!
Pembahasan kemudian masuk ke dunia finansial rumah tangga—hal yang semua orang alami:
uang habis tanpa tahu ke mana arahnya, keinginan yang mirip kebutuhan, hingga efek “lapar mata” karena dunia digital.
Peserta diajak praktik langsung membuat anggaran belanja sederhana tapi realistis. Materi seperti:
- teknik mencatat pengeluaran,
- menentukan prioritas,
- batas belanja digital,
menjadi bagian yang paling seru karena banyak peserta curhat pengalaman pribadi.
Paylater, Flash Sale, Tren Viral: Semua Curhat Keluar
Setelah diskusi dibuka, cerita “jujur tapi lucu” mengalir begitu saja. Ada yang kesulitan menahan diri saat flash sale tengah malam, ada yang berkali-kali terpancing paylater, dan ada pula yang ikut tren hanya karena ramai di TikTok.
Kelompok 18 merespons semua cerita itu dengan pendekatan solutif: perubahan tidak harus besar—yang penting konsisten.
Setiap peserta diajak memilih satu tindakan kecil yang bisa langsung diterapkan untuk mengurangi kebiasaan konsumtif.
Pesan Ketua Kelompok 18: Bukan Sekadar Kegiatan, Tapi Gerakan
Ketua Kelompok 18, Yolanda Putri, menyampaikan harapan besarnya:
“Semoga kegiatan pengabdian seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi program berkelanjutan. Kami ingin masyarakat mendapatkan manfaat nyata—pengetahuan, keterampilan, dan kesejahteraan yang meningkat. Ke depannya, kami berharap kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat semakin kuat.”
Menghadirkan Edukasi yang Dekat, Hangat, dan Relevan
Melalui PKM ini, Kelompok 18 UNPAM membuktikan bahwa literasi digital dan finansial bisa diajarkan dengan cara interaktif, ringan, dan menyenangkan.
Di tengah gempuran gaya hidup serba instan, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa:
yang penting bukan hanya update dengan zaman,
tapi tetap bijak dalam setiap keputusan.
Apresiasi & Dukungan
Kelompok 18 turut menyampaikan terima kasih kepada:
- Dr. Saiful Anwar, S.Pd., S.E., M.Pd. — Kaprodi Magister Manajemen Pendidikan,
- Dr. Estiningsih Trihandayani, S.T., M.T. — Pembimbing Akademik,
- Dr. Sri Utaminingsih, S.H., S.Pd., M.M.Pd., M.H. — Koordinator PKM,
atas dukungan penuh dari perencanaan hingga pelaksanaan. Arahan dan bimbingan mereka menjadi fondasi penting suksesnya kegiatan pengabdian ini.



