
Yogyakarta – Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Namun, penggunaan teknologi tersebut dinilai perlu diatur secara jelas oleh institusi pendidikan agar tidak mengurangi kualitas proses belajar dan orisinalitas karya akademik.
Peneliti dari University of Bern sekaligus dosen di University of Zurich, Selin Sophia Oeksuez menegaskan pentingnya perguruan tinggi memiliki kebijakan terkait pemanfaatan AI dalam kegiatan akademik.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan International Guest Lecturer bertajuk “Assessment in The Age of Digital Technology” yang diselenggarakan oleh Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Menurut Selin, teknologi digital memang memberikan banyak manfaat, terutama dalam meningkatkan fleksibilitas dan mempercepat penyelesaian tugas. Namun, ketergantungan yang berlebihan terhadap AI dan big data berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir intelektual manusia.
“Teknologi sebaiknya digunakan untuk mempermudah pekerjaan, bukan membuat kemampuan berpikir kritis menjadi tumpul.”
Selain manfaat, penggunaan AI dalam pendidikan juga menghadirkan sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kesenjangan keterampilan digital mahasiswa dalam mengoperasikan teknologi secara efektif dan bertanggung jawab. Di sisi lain, bias teknologi juga dapat memengaruhi cara mahasiswa memahami informasi dan mengambil keputusan akademik.
Selin menambahkan bahwa pembelajaran kognitif akan berjalan lebih efektif apabila teknologi digunakan secara interaktif dan adaptif. Peran dosen tetap sangat penting, terutama dalam memberikan umpan balik, koreksi, serta membangun kolaborasi aktif dalam proses pembelajaran.
Peran Dosen dalam Integrasi AI di Perguruan Tinggi
Dalam pemaparannya, Selin menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan perguruan tinggi untuk mengintegrasikan AI secara sehat dan bertanggung jawab, antara lain:
- Menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi digital.
- Mengembangkan metode ujian dan penilaian berbasis proyek.
- Menyusun pedoman penggunaan AI dalam lingkungan akademik.
- Mengajarkan literasi digital dan etika penggunaan AI kepada mahasiswa.
- Menanamkan pentingnya integritas akademik dalam penyusunan tugas dan karya ilmiah.
Ia juga menekankan bahwa akademisi harus tetap menjunjung etika dalam penggunaan teknologi agar kualitas pendidikan dan nilai orisinalitas tetap terjaga.
Menurutnya, AI tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat pendukung pembelajaran yang harus digunakan secara bijak dan proporsional.
Teknologi dan Masa Depan Pendidikan
Pemanfaatan AI dalam pendidikan diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu menyiapkan regulasi, strategi pembelajaran, dan budaya akademik yang mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Dengan pendekatan yang tepat, teknologi AI dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa menghilangkan esensi pendidikan sebagai proses pengembangan intelektual dan karakter manusia.



